Kipas Angin Hijau

Juli 6, 2007

kipas angin hijau di atas meja kamar
baling balingnya berputar
angin sempoyongan menyapu tubuh
desir rimbun pohon pun berlabuh

listrik mati
baling baling berhenti
angin hilang
rimbun pohon tumbang

ah,
kau tidak seperti itu khan sayang?

Bulan itu kau

Juli 6, 2007

aku pergi

ingin memadamkan bulan

biar aku tak salah lagi

mengira itu kau

maaf

Juni 23, 2007

maaf sayangku,

aku tidak bisa menemuimu

tadi kecoa kecoa datang

lalu mencuri sayapku

maaf

dalamdiam

Juni 16, 2007

Malam ini kulihat bulan sedang memamah remah daun pohon kelapa yang berdiri tak jauh dari tempatku berada. Sunyi sekali kali ini, bahkan suara angin tak kurasa meraba gendang telinga. Hanya sayup sayup hatiku berdegup merintihkan tanya.
Sedang apa kau disana?

Dua kunang kunang beriring terbang kearahku. Kunang kunang dari kuku orang mati, begitulah cerita yang sering kudengar tentang kunang kunang. Kunang kunang itu mengelilingiku berkali kali sebelum pergi meliuk ke langit. Berharap bahwa kelip bintang adalah saudara jauhnya yang terlalu malu malu untuk bertemu, maka tak ada salahnya mendahului berjumpa dengannya.
Aku kembali sendirian di temaram malam yang gulitanya tak pernah terlepaskan.
“Dia masih mencintaimu”
Ranting kering yang teronggok di kakiku tiba tiba berbicara.
“Bukan, dia masih sangat mencintaimu”
Seekor katak yang melintas berkata hal yang sama kepadaku.
“Dia tidak ingin kehilanganmu”
Rumput rumput berkata dalam liukkan tubuhnya.

Malam yang aneh dan dingin namun tak jua membekukan lukaku. Ranting ranting, katak dan rumput rumput semua berbicara seolah olah mengerti apa yang kuinginkan saat ini.
Hanya sunyi yang bermozaik senyummu yang kuinginkan menjadi temanku malam ini.
Bukan ranting ranting yang teronggok menanti ajal menjadi api, atau katak yang tahunya hanya melompat walau pernah hidup di dua dunia yang berbeda. Bahkan rumput rumput yang tak hentinya bergoyang meski pohon pohon sedang menitikkan air mata.

Malam ini masih kulihat bulan sedang memamah remah daun pohon kelapa yang berdiri tak jauh dari tempatku berada. Masih sunyi kali ini, bahkan suara angin tak kurasa meraba gendang telinga. Hanya sayup sayup hatiku berdegup merintihkan tanya.
Sedang apa kau disana?
Karena aku sedang mengingatmu dalam ketidakpastian.
Karena aku sedang mencintaimu dalam diam.
Dalam diam.

dalamdiam

Juni 16, 2007

matahari mencintai laut dalam pesona senja yang rupawan

bulan mencintai malam dalam pendar halo kesunyian

langit mencintai bumi dalam sejuk siraman hujan

dan aku,

mencintai dirimu dalam diam